Buku adalah jendela kehidupan, begitu kata guru SD kita dulu. Bisa jadi iya, karena walaupun males banget baca buku pelajaran saat itu, kalo dipaksain pelan-pelan kita pasti bakal paham dengan materi pelajaran di kelas. Mulai beberapa tahun ini, kita juga jadi akrab dengan membaca via ebook atau pdf dari gadget. Nah, gaya hidup suka membaca ini juga mulai berkembang di kalangan anak muda jadi kegiatan yang lebih produktif, yaitu menulis.

Hari Sabtu tanggal 13 Juni 2015 kemarin, Mohammed Sabiq atau biasa dipanggil Sabeq resmi me-launching buku keduanya yang diberi judul Malabar. Mirip salah satu nama jalan di kota Malang ya? Karena memang ternyata si Sabeq ini dulunya sering nongkrong di taman Malabar itu. Dan karena hutannya mengandung wangsit inspirasi, akhirnya jadilah tulisan-tulisan yang bisa kamu nikmati di buku Malabar.

Sabeq juga mengungkapkan bahwa ada tiga poin utama di buku tersebut. Sajak-sajak cinta, kehidupan, dan essay bertema multikulturalisme dari beberapa temannya yang tergabung dalam organisasi Encompass Indonesia.

“Buku ini intinya cuma tiga. Yang pertama cinta, karena kita ngga bakal hidup tanpa cinta. Lalu kehidupan, lebih ke arah realita kehidupan ada beberapa puisi satir kritik penguasa, dan yang terakhir tentang kejadian multikultural atau perbedaan-perbedaan yang sering kita alami di kehidupan sehari-hari. Jadi kalau kalian baca keseluruhan buku ini pasti bakal merasa ada keterkaitan di beberapa bagian.” Ujarnya saat ditanya mengenai isi buku Malabar.

Acara launching buku Malabar diadakan di rooftop Houtenhand Brew and Coffee. Jadi kebayang kan angin sepoi-sepoi yang berhembus, dihangatkan cangkir-cangkir teh dengan daun mint, snack manis. Belum lagi suasana sore hari yang khas dan yang ngga kalah oke adalah pengisi acaranya guys! Iya, kemarin kita ngga cuma dengerin si penulis bicara, tapi juga dihibur oleh music akustik dari Duo Kata dan Merah Muda. Di penghujung acara, kita disuguhi penampilan magis teatrikal puisi oleh Elyda dari Teater Komunitas.

FYI aja nih, kemaren Duo Kata ngecover lagunya Efek Rumah Kaca yang Melankolia lho, jadi membuat suasana semakin syahdu. Gimana ngga merinding terbawa suasana, saat ngelihat anak-anak muda yang berkarya seperti Sabeq, dan temen-temen lainnya ini antusias banget untuk membagikan ilmu yang mereka punya. Salah satunya ada Bagustian yang datang sebagai representasi dari Indie Book Corner yaitu penerbit lokal Jogja yang menerbitkan buku Malabar. Bagustian bercerita tentang bagaimana karya tulis fisik harus tetap dijaga seiring berkembangnya teknologi buku tanpa kertas. Bagaimanapun juga, buku akan menjadi sumber pengetahuan otentik yang menjadi warisan anak cucu kita kelak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here