[quote_box_center]”Hai taukah kau bahwa hidup itu susah, lebih baik engkau berkesenian saja. Karna seni membuat semua terasa mudah. Karna seni membuat semua jadi indah. Karna seni membuat semua jadi asyik!” – Indie Art Wedding (Hidup Itu Pendek, Seni Itu Panjang) Lagu yang cocok menjadi anthem berkesenian untuk teman-teman yang tidak hanya berharap supaya dibilang kekinian.[/quote_box_center]

Berakhir sudah keriuhan pesta kemping naik gunung paling artsy yang pernah saya datangi. Pesta itu adalah Penahitam Art & Music Camp Fest 2015 yang diadakan 24 – 25 Januari lalu di Gunung Banyak, Paralayang, Batu. Pesta seni dan musik dan workshop dan berkenalan dan bertukar tangkap pengalaman dan cerita asyik yang sayang sekali untuk dilewatkan. Meski sudah selesai, momen dan kenangan serunya tak bisa berlalu begitu saja.

Jumat, 23 Januari 2013

Saya berangkat dari solo bersama seorang teman dari Tugitu Unite, namanya Mas Nopix. Ia diundang dalam pesta peringatan 3 tahun Penahitam, sebuah kolektif seni yang berbasis di cygnus.Lab, Batu. Sebagai sesama pekerja seni, tentu ia tak menolak ajakan itu. Tugitu sendiri merupakan sebuah kelompok yang menaungi kegiatan artwork kompilasi tanpa kurasi, prinsipnya: siapa cepat, dia terbit! Tak perlu ragu untuk berbagi artwork dengan mereka. Tugitu juga merupakan artspace dan ruang diskusi alternative di Solo.

Siang yang kelabu menemani keberangkatan kami dari terminal bis Tirtonadi, Solo. Di jalan, kami yang baru mengenal tak kurang dari satu minggu lewat jejaring facebook ini, saling bertukar tangkap dengan cerita. Mengenai Lokananta dan bibit-bibit korupsi yang merayu-rayu petingginya, tentang kurangnya artspace dan tenaga profesional dari pemerintah kota yang tak kunjung bisa mengelola dan menampung bakat seni muda-mudi Surakarta. Ia juga mengeluhkan tentang para mahasiswa seni yang tak mau terjun di dunia seni “kuliahnya seni rupa, tapi pas lulus kerja di bank. Yo kan eman”, gitu katanya. Sayang sekali.

Langit memang masih mendung dan gemuruh dari langit masih terdengar, tapi seperti bis umum pada umumnya, panas dan pengapnya tak bisa terelakkan. Beruntung bis tersebut tak terlalu sesak.
Sampai di Kediri kami diturunkan paksa oleh kernet perempuan bus Dahlia Indah yang tampak sangar tersebut. Ia memaksa kami turun untuk selanjutnya oper dengan bus Puspa Indah. Kampret! Terus kenapa dari awal dia bilang mau nganter sampe malang!

Perjalanan yang kami lewati begitu lama, dalam hati saya mengutuk! Saya tidak akan naik bis lagi kalo pergi ke Malang, badan remuk dan pantat serasa terbakar! Mas Nopix turun di Batu duluan, sementara saya masih harus lanjut beberapa puluh menit kedepan untuk persiapan menuju acara besok!

Sabtu 24 Januari 2015

Hari eksekusi ini yang paling ditunggu! Bersama seorang teman (lagi) saya langsung gas menuju Gunung Banyak, Batu. Adalah Aidil, mas-mas CEO dari lytmedia yang membonceng saya menuju venue. Kami berangkat +- pukul 16.00. Dalam hati saya tak sabar untuk segera sampai. Tapi apa daya, perjalanan selalu membutuhkan waktu dan proses yang dengannya kita bisa belajar dan bertukar lempar dengan sepi untuk direnungkan.

Penahitam Music & Art Camp Fest 2015 - the people - 050
by redbiter photowork

Akhirnya sampai di tempat! Setelah melewati jalanan, tanjakan, turunan dan batu batu geronjalan, sampailah di paralayang. Kabut tebal mulai menuruni bukit. Tangan saya reflek menarik jaket lebih erat dari bahu. Hawa dinginnya sudah mulai terasa. Saat masuk, saya langsung bertemu orang orang dengan wajah sumringah terangkai di wajah-wajah mereka. Ada yang berdua, gandengan tangan, ada yang bergerombolan, ada yang foto bersama-sama. Semuanya ceria. Dengan 5000 rupiah kalian bisa mendapatkan keceriaan murni ini untuk dinikmati selama 2 hari berturut-turut. Hati bertemu hati, daging bertemu daging, apa yang lebih murni dari keceriaan ini? Ini bukan kesenangan maya lho, hey ini nyata! Jadi mari bersenang senang!

Kaki kami langsung tertuju ke stage, sebelumnya kami melewati tempat workshop dan juga tenda blackmarket yang berisi banyak sekali barang-barang unik dan menarik yang mungkin tidak bisa kita jumpai dilain waktu. Ada lapak-lapak zine, sketchbook, CD, DVD, kaset, vinyl, kaos, poster, totebag, handcraft, woodcraft, camera analog, lomo, dan buwanyak lagi lainnya.

Saat itu Ajer sedang main, sayang sekali harus melewatkan Iksan Skuter dan Talamariam yang sudah main sebelumnya. Seperti biasa, saya selalu terbius dengan Ajer. Ini kedua kalinya saya lihat live-nya, dan masih terkagum-kagum. Orang bilang tak usah terlalu kagum/nggumunan pada sesuatu, tapi ini ajer, rek! Ajer!
Mas Donny selalu menghayati setiap lagu yang ia bawakan, sebelum melompat ke lagu berikutnya selalu ia bercerita tentang hal ikhwal dalam lagunya itu, atau tentang curhatan-curhatan kegalauannya.

Penahitam Art & Music Camp Fest 2015 - the band - 014
by redbiter photowork

Dari samping saya mendengar ada dua orang saling berbisik “oh itu ajer ya” lawan bicaranya menjawab “iya itu ajer, tapi gak ada nova, dia lagi tour”, balasnya. “Baru kali ini aku liat livenya“. Setelahnya saya menoleh ke kanan, loh ternyata itu mas Ibnu Raharjo (pemilik toko buku Kafka sekaligus pegawai administrasi di kampus saya kuliah) tak lupa saya menyapanya. Disebelahnya ada mas Samack.

Kabut tebal tak membuat pengunjung patah semangat, justru mereka beramai rami saling mendekat dan berbagi kesenangan di acara ini.

Satu penampilan lagi yang paling saya ingat adalah Megatruh, band noise experimental yang telah menyelesaikan Tour se-Jawa Timur ini mencuri perhatian saya. Lirik sedih yang puitis, pembacaan puisi, dan kostum nyleneh dengan suara suara kasar bercampur menjadi Megatruh. Wah saya suka pokoknya! Lalu melihat The Morning After main, bertemu teman teman lama dan baru. Berkenalan, dan bercerita. Semuanya asyik.

Di warung kopi saya juga bertemu Jonathan, anak SMA yang datang jauh jauh dari Solo, sendirian. Ia ikut workshop dan punya niat untuk magang di cygnus.Lab. Sayangnya sekolahnya tidak memperbolehkan dengan alasan terlalu jauh.

Pukul 23.00 acara selesai, panggung dimatikan. Namun masih banyak pengunjung yang ngobrol di area itu.
Karena tidak membawa tenda, saya akhirnya numpang tenda teman-teman Tugitu. Untung tendanya cukup luas jadi bisa ikut ndusel.

Penahitam Music & Art Camp Fest 2015 - the people - 059
by redbiter photowork
Minggu 25 Januari 2015
Penahitam Music & Art Camp Fest 2015 - the people - 038
by redbiter photowork

Minggu pagi, mari berolahraga!
Sepanjang pagi saya dan teman-teman Tugitu menyusuri Gunung Banyak, turun untuk melihat sekeliling. Udaranya tentu segar, khas pegunungan namun tak terlalu dingin. Rasanya seperti kemping Persami SMA dulu, turun dari bukit dan numpang mandi di rumah warga. Haha persis Persami SMA.

Siangnya.
Hujan, Hujan, jangan Marah. Siang itu hujan datang, dan kabut ikut serta bersuyun duyun turun, menggelapkan venue.

Meski bukan hujan badai halilintar, namun efek hujan yang ditimbulkan menjadi semakin parah. Asap kabut dan rokok bercampur menjadi kepulan asap tebal di tempat itu. Tanah yang dari kemaren sudah ‘empuk‘ semakin menjadi saja, licin dan berlumpur. Semua sepatu tak kuasa menahan beban tuannya, ada yang kepleset jatuh, ada yang copot sepatu dan memilih cekeran. Sepatu ngehits anak-anak hipster pun ikut tak berwujud rupanya, dipenuhi lumpur coklat tebal. Tempat ini memang bukan buat fashion, kata Aidil.

Menjelang maghrib, dengan berat hati kami pulang ke Malang. Meski tak bisa melihat aksi Silampukau yang sedari dulu saya pengen, mungkin lain kali. Sudah banyak yang saya dapat disini, teman-teman baru yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Cerita dan kisah menarik mereka, semuanya menyenangkan. Acara ini tak hanya menjadi ajang pamer karya para seniman dan seniwati saja, tapi juga tempat berbagi, berteman dan bersenang senang berjamaah, tagline acara ini benar benar terealisasi. Satu hari berkemah bersama tapi rasanya sudah kenal lama, semoga pertemanan ini bisa berlanjut seterusnya.

Leave a Reply