Tulisan adalah ruang yang bersifat netral dan merupakan hasil peleburan berbagai hal, sehingga subjek  lambat laun menghilang dan tak dapat ditetapkan lagi. “

Roland Barthes

Imaji, Musik, Teks

Jalasutra, 2010, hlm. 145.

 

Mengamini pernyataan Barthes mengenai posisi atau mungkin bisa disebut kehidupan dari suatu tulisan (secara spesifik mengacu pada karya sastra) yang secara merdeka dapat berkeliaran dalam ruang tertentu. Tidak melulu terkungkung oleh pengarang yang biasa di-Tuhankan terhadap karya itu sendiri. Sehingga karya sastra tersebut dalam penginterpretasiannya tidak hanya terpaku pada karya sastra itu “sendiri”.

Meskipun kata berkeliaran sementara menjadi pilihan yang tepat bagi saya untuk menggambarkan kemerdekaan dari karya tetapi keliaran oleh hal tersebut sudah pasti bukan kehendak naluriah, begitu pula tangan penulis yang terikat. Namun, dipengaruhi oleh interpretor baru (sebut saja pembaca) yang mempunyai perbedaan latar belakang. Meskipun seringkali sebuah penginterpretasian secara resmi dilontarkan oleh para kaum akademisi, sehingga nampak posisi mereka disalah-artikan sebagai yang paling benar dalam melakukan interpretasi. Sudah seharusnya pembaca lain pun punya hak yang sama untuk menentukan makna dari karya yang dibacanya. Meski, bisa saja hanya sebatas obrolan ketika nyangkruk di warung bersama kawan, begitu pula berkenaan dengan bedahan yang dilakukan pun masih sederhana dan tak terikat oleh teori-teori tertentu.

Dengan keberagaman perspektif individu  timbul pula makna baru dari suatu karya sastra, terlepas apakah proses dekonstruksi sebelum capaian rekonstruksi  memberikan dinamika yang positif karena yang menjadi pengait dalam proses rekonstruksi makna juga dapat berpengaruh terhadap hasil akhirnya.

Melalui contoh, membandingkan pengantar novel 1984 oleh Ben Pimlott dengan esai dari David Aaronovitch di BBC. Sorotan yang dilakukan terhadap novel oleh kedua orang ini berbeda. Ketika Ben Pimlott lebih banyak melakukan sorotan terhadap karakter di dalam 1984, juga dampak yang terjadi atas perlakuan orang-orang Sosing macam O’Brien dan keterkaitan antara novel dengan kejadian sekitar tahun-tahun pembuatannya juga dibahas dalam pengantarnya (meski pengantar buku dengan versi Pimlott ini dipublikasikan di tahun 2000). Berbeda dengan Aaronovitch, membahas mengenai permasalahan pasca novel tersebut lahir, dimana ada semacam debat mengenai apakah ada muatan ideologi tertentu dalam bukunya, di esainya pula Aaronovitch juga memuat beberapa referensi sebagai penguat esainya.

Sebagai perbandingan, perbedaan latar belakang yang dimiliki oleh kedua orang tersebut sudah tentu akan memberikan persepsi yang berbeda pada apa yang mereka tulis, meski berangkat dari inti bahasan yang sama. Keberagaman sudut pandang akan permasalahan yang diangkat dan disebarkan kepada masyarakat setidaknya akan memberikan pilihan bagaimana menaruh sikap terhadap suatu bahasan dengan melihatnya dari berbagai sudut pandang.

 

Referensi :

Barthes, Roland.2010  Imaji/ Musik/ Teks. Yogyakarta: Jalasutra

Orwell, George. 2014. 1984. Yogyakarta: Bentang Pustaka

Pimlott, Ben. “Introduction to Nineteen Eighty-Four.” http://theorwellprize.co.uk/george-orwell/about-orwell/ben-pimlott-introduction-to-nineteen-eighty-four/ (Diakses tanggal 9 Agustus 2014)

Aaronovitch, David. “1984: George Orwell’s road to dystopia.” http://www.bbc.com/news/magazine-21337504 (Diakses tanggal 9 Agustus 2014)

 

Leave a Reply