Berbicara tentang sejarah sastra sama halnya ketika kita berkunjung ke tempat bersejarah, misalnya Candi Borobudur, atau berkunjung ke Taman Mini Indonesia yang di dalamnya terdapat berbagai macam kebudayaan-kebudayaan Indonesia. Begitu pula dengan membahas tentang sejarah sastra, akan dihadapkan dengan berbagai macam kebudayaan-kebudayaan yang mana, tentu berbeda dengan yang saya sebutkan di atas tadi.

Setiap sejarah memiliki keunikannya masing-masing. Begitu pula dengan sejarah sastra, seperti angkatan 20-an memiliki icon Siti Nurbaya dengan permasalahannya yang masih terasa sampai sekarang. Konsep kawin paksanya seringkali digunakan jika seorang gadis dipaksa menikah oleh orang tuanya dan hal ini merupakan salah satu keunikan atau bisa dibilang sebuah kehebatan dari karya sastra. Angkatan berikutnya dan seterusnya pun begitu adanya.

Sejatinya, sebelum perumusan sejarah sastra oleh beberapa ahli, perkembangan sastra sudah dimulai dengan adanya syair, pantun, gurindam, peribahasa, dan berbentuk hikayat-hikayat, yang biasa disebut dengan pujangga lama. Selanjutnya, lahirlah angkatan-angkatan dalam sastra Indonesia. Dimulai dari angkatan 20-an. Karakteristik angkatan ini adalah kawin paksanya yang masih mengenang di benak orang-orang sampai sekarang. Pada angkatan ini, masih kental adat-istiadat yang mempengaruhi lahirnya karya sastra. Sebut saja, Siti Nurbaya oleh Marah Roesli, Azab dan Sengsara oleh Merari Siregar, dan Salah Asuhan oleh Abdul Muis. Angkatan ini terkenal dengan sebutan Balai Pustaka.

Angkatan 30-an, atau yang biasa disebut dengan angkata Pujangga Baru. Yang terkenal dari angkatan ini adalah novel Layar Terkembang karangan Sultan Takdir Alisjahbana, novel Belenggu oleh Armijn Pane, dan kumpulan puisinya Amir Hamzah yang berjudul Nyanyian Rindu. Ciri khas yang paling menonjol dari angkatan ini adalah adanya unsur romantisme dalam karya sastranya, baik itu dalam novel ataupun pada puisinya. Karya-karya yang lahir dari angkatan ini sebagian besar berbentuk novel, puisi, dan kritik. Angakatn ini juga melahirkan sebuah majalah, yaitu majalah Pujangga Baru sebagai wadah para sastrawan untuk mengekspresikan diri.

Angkatan 30-an juga dikenal dengan dua paham seni yang dikemukakan oleh dua ahli. Pertama adalah paham “seni untuk seni” yang dipelopori oleh Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Dan paham kedua adalah “seni untuk rakyat”, Sultan Takdir Alisjahbana sebagai promotor paham kedua ini.

Siapa yang tidak kenal dengan Chairil Anwar? Saya kira semua orang pun mengenal dia. Adalah sosok yang paling berpengaruh pada angkatan ’45. H.B. Jassin mencapnya sebagai pelopor angkatan ’45. Hal ini dibuktikan dengan buku yang ditulisnya: Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45. Masa angkatan ini tidak lagi bersifat romantisme, melainkan banyak karya-karya yang lahir dipengaruhi oleh pengalaman hidup masalah sosial, politik, dan budaya, sehingga karya-karyanya lebih pada realisme. Misalnya puisi-puisi Chairil Anwar (CA) yang sarat sekali dengan nasionalismenya, seperti Diponegoro, Karang – Bekasi, dan lain sebagainya. Karya-karya yang lahir masa ini didominasi oleh puisi-puisi. Di antara beberapa pengarang angkatan ’45 yang termasyhur selain Chairil Anwar ada pula Mochtar Lubis dengan roman-romannya, seperti Harimau-Harimau dan Jalan Tak Ada Ujung.

Baiklah, kita akan memasuki angkatan selanjutnya, angkatan 50-an, saat itu ada satu majalah yang terbit yaitu, “Kisah” asuhan H.B. Jassin namun, majalah hanya bertahan sampai pada tahun 1946 saja. Ciri dari angkatan ini adalah banyaknya karya cerpen dan puisi yang sangat mendominasi. Para pengarang angkatan ini adalah W.S. Rendra, Putu Wijaya, dan N.H. Dini. Adapun karya-karya yang terkenal pada masa ini adalah Balada Orang-orang Tercinta (kumpulan puisi), Balada Terbunuhnya Atma Karpo (kumpulan puisi), Odipus Sang Raja (Drama) karangan W.S. Rendra. Dua Dunia (kumpulan cerpen), Namaku Hiroko (Roman), Padang Halang di Belakang Rumah (Roman), Pada Sebuah Kapal oleh N.H. Dini.

Setelah angkatan 50-an ada angkatan ‘66. Pada angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah Horizon. Majalah yang hampir seluruh halamannya memuat berbagai permasalahan sastra, termasuk juga memuat puisi dan cerpen. Bentuk karya sastra berupa puisi dan cerpen. Cirinya berisi protes pada pemimpin dan berbahasa padat. Pengarang pada masa ini adalah Taufik Ismail yang banyak melahirkan kumpulan puisi, salah satu yang terkenal berjudul Malu Aku Jadi Orang Indonesia.

Angkatan 80-an dan 90-an merupakan angkatan yang dibilang sudah memasuki area kebebasan. Meskipun pada angkatan ’45 sudah bisa dibilang ada gerakan atau upaya untuk pembebasan karya, namun angakatan ini tidak lagi terpaut oleh berbagai masalah kehidupan, seperti halnya angkatan 20-an atau yang dikenal dengan Balai Pustaka dan angkatan Pujangga Baru. Para sastrawan pada masa ini lebih berpikir dinamis, sehingga karya yang dihasilkan lebih kaya dan ‘semau gue’. Karya-karya pada masa ini bersifat eksperimental dan lebih berekspresi karena tidak lagi dipengaruhi oleh adat istiadat yang ada. Karya-karya yang lahir pun lebih unik dan segar, sekaligus banyak merekam kehidupan masyarakat modern. Pada angkatan ini pula banyak bermunculan berbagai karya yang bersifat roman percintaan. Mira W. Dan Marga T. Adalah dua sosok wanita yang banyak karya-karya bersifat romantisme. Ingat Lupus kan? Lupus menjadi salah satu roman yang beraliran sastra pop. Buah tangan Hilman ini menjadi termasyhur ketika diangkat menjadi sebuah film. Contoh beberapa karya pada angakatan ini adalah Lupus buah tangan Hilman, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Dalam hal puisi, karya-karya Goenawan Muhammad, Afrizal Malna, dan D. Zawawi Imron.

Yang terakhir adalah angkatan 2000-an atau bisa juga dibilang sebagai angkatan reformasi. Angkatan ini bertahan sampai sekarang. Sebenarnya ini tidak terlalu berat, sebab sama saja, pada tahun tersebut reformasi sudah mulai ditegakkan kembali. Pasca lengsernya presiden Soeharto, karya sastra lebih bersifat bebas. Begitu sebab mengapa karya-karya yang muncul pada tahun ini sebagai cerminan dari adanya reformasi tersebut. Banyak di antaranya bertemakan sosial, politik, baik yang berupa novel, cerpen, puisi, ataupun dramanya. Ciri dari angkatan ini mengandung renungan religiusitas, dalam karya terdapat suara hati nurani dan pencerahan hidup, dan memiliki alur cerita yang ringan dan berisi realita kehidupan pada umumnya. Contoh karya sastra angkatan ini adalah novel-novel Andrea Hirata: tetralogi Laskar Pelangi, karya-karya Dee (Dewi Lestari): Supernova, Seri Bilangan Fu, dan Madre, karya-karya Habiburrahman El Shirazy: Ayat-Ayat Cinta, Dalam Mihrab Cinta, dan Bumi Cinta.

Begitulah kiranya jika membicarakan tentang sejarah sastra. Seperti halnya berziarah kembali, mengingat dan mengenang. Apalagi jika berkunjung ke situs-situs sejarah, akan terasah sekali suasana pada zaman tersebut begitu pula dengan sejarah sastra, membahasnya seperti ikut merasakan hiruk pikuk sastra tiap angkatan. Akhirnya, semoga bermanfaat tulisan yang kiranya sedikit ini.

Leave a Reply