Livi Zheng, produser selaku aktris dalam film “Brush with Danger”, menggelar press conference yang diadakan di Monopoly Café & Resto, Malang, Kamis (5/11). Dibawahi Sun and Moon Films, film ini menuai tanggapan positif dari pencinta film di Amerika.

Livi Zheng saat konferensi pers film Brush with Danger (5/11) di Cafe Monopoly Malang
Livi Zheng saat konferensi pers film Brush with Danger (5/11) di Cafe Monopoly Malang

Sekilas tentang Brush with Danger

Film ini bercerita tentang dua kakak beradik, Ken Qiang dan Alice Qiang, yang diperankan sendiri oleh Livi Zheng serta adik kandungnya, Ken Zheng. Ken dan Alice merupakan imigran gelap yang terpaksa mengungsi di Amerika Serikat dikarenakan negara tempat asalnya sedang dilanda perang. Kehidupan yang sulit di negara barunya, terpaksa membuat mereka menjadi tunawisma. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Ken Qiang, yang merupkan seorang petarung, melakukan pertunjukkan aksi beladiri di jalanan. Sedangkan kakaknya, Alice, menjual lukisan karyanya sendiri. Sebuah drama terjadi ketika mereka bertemu dengan Justus Sullivan, pemilik museum yang memperkerjakan mereka setelah ia melihat bakat dari kakak adik tersebut. Bak udang dibalik batu, Mr. Sullivan ternyata memperkerjakan mereka untuk keperluan yang jahat. Alice dipaksa untuk menduplikat lukisan dari seniman-seniman terkenal, seperti halnya karya Van Gogh. Tindakan kriminal tersebut, membawa dua bersaudara tersebut ke dalam petarungan terbesar selama hidupnya.

Penasaran dengan aksi mereka selanjutnya? Film Brush with Danger dapat kalian tonton di bioskop terdekat mulai tanggal 26 November 2015.

This slideshow requires JavaScript.

Debut Livi Zheng di rancah Hollywood

Brush with Danger bukanlah film pertama yang diproduseri Livi. Seni kungfu dan wushu yang ia dalami sejak kecil, membawanya menjadi pemeran pengganti ke dalam peran – peran kecil di beberapa film Indonesia. Berawal dari studinya di Universitas Washington, yang juga merupakan almamater aktor legenda , Bruce Lee, disitulah kecintaan Livi akan dunia perfilman semakin bertambah. Ia nekat terjun menjadi produser di film Legend of the East dan The Empire’s Throne. Livi bertekad memasarkan filmnya tidak hanya dalam rancah dalam negeri tetapi juga dalam rancah internasional, oleh karena itu ia memilih Hollywood sebagai debut karirnya.

Tentu saja banyak hambatan yang dialami Livi ketika ia memulai produksi film BWD, singkatan dari Brush with Danger. Salah satunya ialah sulitnya mencari production house yang mau menerima script yang ia dan adiknya buat. Butuh 32 kali revisi agar script yang mereka buat dapat menjadi film aksi yang layak tayang seperti saat ini. Hambatan lain ia temukan ketika ingin memasarkan filmnya di Indonesia. “…ternyata proses pendistribusian film di Indonesia lebih rumit dibandingkan disana (Hollywood) .. Disini mulai distribusi sampai importir semuanya executive produser yang jalani..”, curhatnya.

Tidak hanya pengalaman sedih, ia juga menemukan pengalaman menarik ketika memproduksi film BWD. “..jadi aku disana juga mengenalkan makanan di Indonesia ke para crew.. yang bagian editing kan sampai malem tuh, aku kasih aja mereka kacang atom pedas.. biar melek..hihi!”, lakarnya.

Konferensi kali ini ia hadiri tanpa dampingan sang adik, Ken Zheng. Untuk projek mereka selanjutnya, ia membeberkan akan memakai lokasi syuting di Indonesia.

Di akhir konferensi, ia memberikan quotes untuk peserta yang hadir.

Kita harus mimpi, karena tanpa mimpi hidup kita akan hampa. Tidak masalah ditolak terus menerus, karena setelah mengalami penolakan, kita akan sukses”, ucapnya.

 

Leave a Reply